Tuesday, October 12, 2010

Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing 'aka' (Mursyid)?


Assalamualaikumu semua... dgn ini saya tertarik dgn post yg dibuat oleh admin jalansufi,facebook:http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/jalansuficom/siapa-yang-tidak-memerlukan-pembimbing-aka-mursyid/138030406245248.

jadi pada pagi ini saya ingin cuba dedahkan penjelasan yg dibuat oleh beliau ini amat sesuai untuk tontonan umum.....memandangkan penceritaannya sejajar dengan kefahaman saya jugak.....oleh itu marilah sama-sama kita membacanya dan mencari disebalik rahsianya:

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun(mursyid) yang dapat memberi petunjuk kepadanya".....Al-Kahfi (Goa)-17

Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :

Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan

Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam

Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf

Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi…..
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.

Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita boleh merasakan nikmatnya beragama.

Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pondok, bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.

Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang boleh berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.

Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja memerlukan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”

Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.

Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”

Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.

Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih memerlukan lagi.”



Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).

Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.

Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak mampu menjawab karena khuatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.

Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.

Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.

Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.

Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.

Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka memerlukan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu

Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.

AKHIRNYA: ADA RUANGAN KOMEN-KOMEN AHLI FACEBOOK UTK TATAPAN SEMUA.

#
Putera darul aman:
Alhamdulillah..smoga Allah memanjangkan umur dan memberkati guru ku..
Isnin pada pukul 2.12 ptg melalui Facebook Mudah Alih:

Za Hafiza:
apabila kita ingin mencari mursyid, harusnya niat itu benar-benar ikhlas dan jujur - bukan dengan niat mencari pengetahuan; tetapi niat-lah untuk mengenal ALLAH. mursyid ada hak untuk menolak bergabung; jadi sekiranya tertolak - jangan s...alahkan mursyid itu kerana ia melakukannya bukan menurut hawa nafsu.

pernah berkata seorang mursyid pada zamannya, setelah menolak untuk bergabung dengan seorang pangeran: "ilmu yang akan kuberikan kepadanya ibarat 40 telaga air, sedangkan sekiranya ia minum dari setimba air sahaja itu sudah cukup membuatnya sesak - kerana setimba air itu (bagiku) cukup untuk 40 orang minum."

tidak semua manusia mampu memegang dan menanggung rahsia ini. :)))
Isnin pada pukul 3.10 ptg

Mohd Afzamiziey:
al-quran pun sdh menceritakan kpd kita dgn jelas.semulia2 nabi musa, sebaik2 nabi musa pun disuruh oleh allah utk blajar n berguru dgn saidina khidr,sdgkan kalau nk ikut darjat nabi musa adalah nabi yg blh berinteraksi secara langsung dgn allah dan saidini khidr ada wali.inikan pula kita sbgai manusia biasa yg tdk mahu berusaha mencari guru tersebut. Kan!kan!kan! Harap mohon pencerahan lg kalau ada terkasar bhs,Isnin pada pukul 3.19 ptg.

Pesbuk Scuk:
 za:...hmmm ada rahsia2 ker?...tidak mungkin YG MAHA NYATA main sembunyi2 lak?...
mohon pencerahan...Isnin pada pukul 3.48 ptg

Kubukansape Sape:
penin penin.....Isnin pada pukul 4.00 ptg

Nik Marzuki:
Ia main sembunyi sembunyi dgn MUHAMAD ( dekat kasih hebat,sempurna,complete ciptaan allah ttg muhamad )dali inilah memerlukan kita berguru mursid bermula dgn wakil rasullah sebelum di akhiri dgn bermursidkan rasullah bergantung pada syarat dan termanya
Isnin pada pukul 4.40 ptg

Zamri Katijan:
aku bersetuju... Allah bersembunyi dalam muhammad dan muhammad penyata sifat Allah di dunia.Isnin pada pukul 5.27 ptg

Pesbuk Scuk:
aduh...pening2 gak...mohon pencerahan lagik...Isnin pada pukul 6.02 ptg.

Kubukansape Sape adus...
Isnin pada pukul 6.07 ptg

Muhammad Yasir:
mohon pendapat.....mcm na nak cari mursyid untuk tasawuf ......ana ingin nak berguru ....nak hampir betol2 dgan allah.....harap penjelasan.......Isnin pada pukul 6.44 ptg

Mohd Hazahar:
kn kthui dulu apa cri2 guru mursyid......pesbuk Scuk: Rahsia Allah itu dilarang dicritakan.. ttpi, org2 plhan Allah saja yg dpt mgthui rahsianya itu.. kufur bila dicrtakan.. ingin ku khabarkan disni skdar pgtahuiku.. ttpi tdk akan akan ditrma ...akal yg waras.Isnin pada pukul 10.22 ptg

Shahmix Mat Nor:
maaf jika belum arif utk mengatakan ini...sy masih lagi merakak... tapi sebagaimana yg belaku pada diri sendri..mohonlah petunjuk dan bantuan dariNya utk mendapatkan guru yg blh membimbing..jika saudara benar2 memohon ibarat org kehausan..insyallah akan dipertemukan...jika hanya berkehendak dari luar sahaja...rasa saya boleh pening kalo mengaji pon...ilmu dapat tapi nak jalan pening...Isnin pada pukul 10.57 ptg

Rain Saiful serikandi ana:
bgus la lau cm 2.pndok pasir tmboh mmg tmpt yg tbaik tuk mgaji ilmu2 spti ni. insyaAllah,mudah2n bjaya.Isnin pada pukul 11.52 ptg.

Rooshdee Ghazali:
Satu pjlasn yg mnarik & myntuh.Trima ksh buat Admin.Semalam pada pukul 12.22 pagi

Nik Marzuki @muhamad yasr:
Allah lebih dekat dari urat halkum cara nak berguru caari guru yg dapat membimbing menukar sifat mu kepada sifat ASALMU iaitu MUHAMAD sembahyang hajat t/malan minta berkat rasullah dan wakilnya agar di ketemui guru yg berciri di atas.Semalam pada pukul 7.58 pagi

jalansufi.com:
cari guru... -akukosong 6 jam yang lalu

Za Hafiza:
DIA-lah yang dzahir, dan DIA-lah yang batin. nyata-NYA ada yang mampu dilihat/difahami sebatas penglihatan dan akal manusia, dan nyata-NYA juga ada yang menjadi 'rahsia'.
kerana ALLAH ingin dikenali, maka ia menyatakan diri-NYA (ta'ayyun, ...iaitu nyata). dan ta'ayyun ini dibahagikan kepada 4 martabat.ta'ayyun awwal: ilm,wujud, syuhud, dan nur. ta'ayyun thani: ma'lum(a'yan tsabitah dn ruh idafi). ta'ayyun taslist: ruh. ta'ayyun rabi' dan khamis: jasmani.
hanya DZAT ALLAH sahaja yang LA TA'AYYUN yakni tiada nyata kerana akal, fikiran, perkataan, pengetahuan dan makrifat manusia tidak sampai kepada-NYA.3 jam yang lalu.

Za Hafiza:
apakah yang paling dekat dengan seorang manusia? itu-lah mati. dan, dikatakan ALLAH itu lebih dekat dari urat leher kamu sendiri. kenapa urat leher yang dijadikan permisalan dalam hal ini?
sesungguhnya - untuk mengenal ALLAH, seeorang itu... harus mati. matikan segala keinginan duniawi dan ukhrawi. supaya yang tinggal dlm hatinya adalah ALLAH semata-mata.3 jam yg lalu

Nik Marzuki:
mati makmawi yg mengikut burung hud hud hanya sedikit yg sampai oleh mati lah kamu sebelum kamu dimatikan berpandu kan MEREKA DIJALAN YG LURUS BUKAN JALAN YANG SESAT.lebih kurang sejam yang lalu

Mohd Afzamiziey:
assalamualaikum tuan ADMIN.....saya nk mintak izin nk masukkan post ni ke dlm blog saya....blh yer?....supaya aotumatiknya dia akan keluar semua kat fb....

1 comment:

nizam omar said...

SYEIKH MAULAWI JALALUDDIN AHMAD AR-ROWI NAQSHBANDI MUJADDIDI UWAISI 'UFIYA ALLAHU 'ANHU WALI WALIDAIHI